Akhirnya aku tersenyum lagi, senyum yang kecil, senyum yang sama yang
pernah kulempar di saat aku tahu bahwa aku memang bukan satu-satunya.
Seharusnya aku lebih berekspresi, sebab kebohongan ini amat menyentak.
Aku ingin melangkah mundur sambil memberimu tepuk tangan. Kau hebat. Ini
panggungmu, tempatmu lihai bersandiwara, sementara aku terlampau
merasakanmu.
Terkadang, pengakuan adalah pukulan yang telak. Terima kasih,
setidaknya setelah kau ketahuan, kau tidak menyangkal. Sekarang aku
harus bagaimana? Kenyataannya ternyata, hatiku yang berbicara dengan
otakmu dan orang terlanjur bilang kita cocok. Sial.
Aku tidak tahu harus bagaimana sekalipun aku tahu kau salah. Orang
yang salah patut dihukum sebelum pintu maaf terbuka lebar. Namun hukuman
apa yang pantas untuk pembohong? Beri tahu aku apa! Aku tidak mungkin
hanya sekadar menghujan sumpah, sebab kata-kata kutuk tidak seharusnya
keluar dari mulutku. Mungkin suatu hari, saat kau telah menggenggam
segala keinginanmu, kau hanya akan bertanya aku di mana, sambil menyiksa
diri sendiri.
"Pada akhirnya, kita adalah sajak yang kehabisan rima dan kehilangan makna."
"Seperti sebaik-baiknya rumah ialah yang membuat penghuninya betah, pun sebaik-baiknya hati ialah yang membuat pemiliknya menetap, bukan sekadar singgah."
"Suatu hari nanti Tuhan akan mempertemukanmu dengan orang yang tepat, yang membuatmu tak meminta lebih dari apa yang telah kau dapat."
"Tuhan itu baik, menjauhkanmu dari orang yang tak layak kau cintai."